Thursday, February 14, 2008

.:: Portal Tribun Timur Makassar

.:: Portal Tribun Timur Makassar: "Jumat, 15-02-2008
Apartemen Murah di Jl Durian
APARTEMEN murah bakal hadir di Makassar. PT Bumi Rama Nusantara, perusahaan milik Halim Kalla, akan membangun apartemen dengan target pasar golongan menengah. Pembangunannya rencananya akan dimulai bulan Maret nanti.
'Ini adalah model hunian untuk menjawab perkembangan Kota Makassar. Ke depan, Makassar akan menghadapi kendala berupa keterbatasan lahan,' kata Halim di acara seminar Sehari Makassar 2025 Kembali ke Kota Dunia di Hotel Clarion, Makassar, Kamis (14/2).

Apartamen ini akan berlokasi di Jl Durian di pusat Kota Makassar dan berdiri di atas lahan seluas 800 meter per segi.
Kendati berkonsep apartemen, bangunan ini tidak terlalu jangkung, hanya terdiri dari satu basement dan empat lantai.
Direktur PT Bumi Rama Nusantara, Eddie Cahyakusuma, menjelaskan, satu blok apartemen murah ini akan terdiri dari 24 unit.
Lantai pertama akan digunakan sebagai pertokoan, lantai kedua sampai lantai empat adalah hunian. Sedangkan basement digunakan sebagai tempat parkir kendaraan.
'Tipe hunian terdiri dari tipe 50 dengan dua kamar dan tipe 100 dengan tiga kamar. Harganya berkisar antara Rp 100 juta hingga Rp 150 juta dengan kepemilikan strata tittle (hak milik atas satuan rumah susun),' kata Eddie.

Hidup Bertetangga
Ia juga menjelaskan, apartemen ini sengaja tidak dirancang sebagai bangunan tinggi. Masyarakat Sulawesi"

Era Monorail dan Gedung Tinggi

TRIBUN TIMUR MAKASSAR RSS
http://www.tribun-timur.com/view.php?id=64098

Jumat, 15-02-2008 
Era Monorail dan Gedung Tinggi
Makassar 2025
 
SEPERTI apa wajah Makassar di tahun 2025? Sampai saat ini belum ada yang bisa mejawabnya. Tetapi hanya ada dua kemungkinan.
Makassar menjadi kota yang acak-acakan dan tidak enak dihuni atau menjadi kota yang rapi dan indah serta nyaman menjadi hunian warga.
Dua kemungkinan inilah yang membayang-bayangi seluruh warga Makassar. Bayangan buruknya kota yang luasnya hanya 175 kilometer persegi ini, 17 tahun mendatang akan memiliki penduduk hingga 4,9 juta jiwa. Masalah sosial bertumpuk-tumpuk, cuaca yang panas, dan macet total di semua ruas jalan.
 
Bayangan baiknya, laju pertumbuhan penduduk tetap tinggi tetapi sebagian besar tinggal dalam hunian-strata tittle (bangunan vertikal) yang tertata rapi, sejuk karena cukup tersedia ruang terbuka hijau, dan moda transportasi massal dengan busway dan monorail. Jalan-jalan bebas macet.
Semua warga pasti tidak akan memilih bayangan yang pertama. Karena itu pula Pemerintah Kota Makassar berinisiatif menggelar seminar sehari bertema Makassar 2025: Kembali ke Kota Dunia.
Makassar dicita-citakan bukan hanya kota yang nyaman dihuni melainkan juga menjadi kota dunia.
Seminar ini digelar di Hotel Clarion, Makassar, Kamis (14/2). Dua orang keynote speaker berbicara untuk mengubah Makassar menjadi kota dunia yang nyaman dihuni. Mereka adalah mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso dan Chief Executive Officer (CEO) Para Goup, Chairul Tandjung.
Seminar ini juga melibatkan banyak ahli, yaitu ekonom Universitas Hasanuddin (Unhas) Marzuki DEA, Direktur Eksekutif Walhi Erna Witoelar yang diwakili konsultan tata ruang Danny Pomanto, pakar transportasi Unhas Prof Yamin Jinca, serta pelaku bisnis Halim Kalla dan Wayah S Wiroto.

Tumbuh Cepat
Chairul Tanjung memprediksi, pada tahun 2025 pertumbuhan ekonomi Makassar terjadi secara cepat. Income penduduk per kapita per tahun akan mencapai sebesar 3.000 dolar As atau Rp 28,5 juta per tahun. Konsumsi yang tinggi mendorong tumbuhnya mal dan tempat wisata.
"Bicara Makassar, terlebih dahulu kita bicara Indonesia. Pada tahun 2025, Indonesia bakal menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi nomor tujuh terbesar di dunia mengikuti tren pertumbuhan ekonomi Asia. Makassar akan mengambil berkah dari pertumbuhan itu," katanya.
Sedangkan Halim mengatakan, sebagai kota besar Makassar juga bakal mengalami keterbatasan lahan. Bayangkan, pada 2025 kepadatan penduduk adalah 28 ribu jiwa per meter per segi. Peningkatan income dalam kota yang padat juga akan mendorong laju pembangunan strata tittle.
"Mau tidak mau kita akan menghadapi masalah kekurangan lahan. Pertumbuhan bangunan horizontal yang pesat akan segera menjadi hunian yang kumuh. Parahnya lagi, ruang terbuka hijau tidak punya tempat. Maka, konsep bangunan vertikal harus mulai dipikirkan sejak sekarang," katanya.
Sementara Sutiyoso lebih banyak memperingatkan kendala pembangunan kota metropolitan, yaitu resistensi masyarakat yang menolak diajak berubah. Ia menyarankan, Pemerintah Kota Makassar tetap menjalankan rencana penataan meski bisa memancing reaksi masyarakat.

Namun ia meminta Pemerintah Kota Makassar mendahulukan penataan jaringan transportasi. "Saya ingatkan, Makassar jangan bangga dengan petepete. Itu bukan jaringan transportasi karena tidak integrated. Kota dengan transportasi yang kacau akan menjadi high cost city," kata Sutiyoso
Maka sejak saat ini Makassar harus merancang konsep transportasi massal dengan simpul-simpul yang bisa menghubungkan wilayah utara-selatan dan barat-timur. Seperti Jakarta, ia menyarankan busway karena lebih murah. Jika mungkin melibatkan swasta, ia juga menyarankan pembangunan monorail.

Kota Dunia
Hasil dari seminar sehari tersebut rencananya akan dijadkan sebagai bahan masukan bagi rencana revisi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2006-2015.
Revisi perda tata ruang dilatarbelakangi oleh disahkannya Undang-Undang (UU) Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang Nasional. Seluruh perda tata ruang diharuskan mengacu pada UU tersebut. Jangka waktu berlaku rencana tata ruang diperpanjang dari 2015 menjadi 2025.
"Kita punya waktu 17 tahun untuk bekerja keras menuju kota internasional. Sebagai langkah awal, kami menjaring gagasan dari beberapa praktisi dan pakar dalam seminar Menuju Makassar 2025," ujar Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin.
Revisi meliputi beberapa aspek tata ruang meliputi antara lain pembagian kawasan, penataan lingkungan, dan penataan transportasi. Kawasan dibagi menjadi kawasan strategis dan kawasan terpadu. Revisi perda akan memuat paradigma pembangunan kota internasional.
Konsultan Tata Ruang Kota Makassar, Danny Pomanto, mengatakan, Makassar sebagai kota dunia memiliki akar historis. Pada abad ke-16 Makassar adalah kota bandar terpenting di Asia. Makassar juga pernah menjadi kota ilmu pengetahuan dengan kekayaan literaturnya.

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com

Hotline SMS untuk berlangganan Tribun
Timur edisi cetak: 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555) (furqon majid)


Makassar, Sulsel
www.tribun-timur.com


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

Sutiyoso Kritik Sistem Transportasi Makassar

Tribun Timur, Makassar
http://www.tribun-timur.com/view.php?id=63997&jenis=Makassar

Kamis, 14-02-2008 | 18:27:57
Sutiyoso Kritik Sistem Transportasi Makassar
Laporan: Andi Syahrir, tribuntimurcom@yahoo.com
Makassar, Tribun - Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menilai, dalam kurun waktu 22 tahun terakhir, Kota Makassar tidak memperlihatkan perkembangan yang signifikan terutama yang terkait dengan keindahan, ketertiban, daya tarik kota, dan sistem transportasi.
"Tahun 2006 lalu saya ke Makassar. Dari bandara ke kota saya lewat jalan tol. Tapi sekarang, jalan tol itu sudah tidak bisa dilewati lagi. Padahal kan seharusnya jalan tol itu harus lebih baik, kalau tidak lebih baik ada jalur alternatif yang lebih lancar," ujarnya.

Menurut dia, ada empat masalah krusial yang dihadapi sebuah kota yang ingin menjadi kota dunia yakni kependudukan (urbanisasi yang tinggi), sistem transportasi, persampahan, dan kepastian hukum.

"Urbanisasi yang tinggi kalau tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan penyerobotan lahan, ketidaktertiban pedagang kaki lima, sampah yang berserakan dan banyak hal lain," ujarnya.

Di sektor transportasi, sebuah kota harus bisa menciptakan sistim transportasi yang lancar dan murah. Kalau sistem transportasinya berantakan, maka kota itu akan menjadi kota high cost dan tidak akan ada investor yang mau masuk di kota yang high cost seperti itu.(*)

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com

Hotline SMS untuk berlangganan Tribun
Timur edisi cetak: 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555) (rir)

Inovasi Media Sebagai Keharusan

http://tribun-timur.com/view.php?id=63935&jenis=Opini
Kamis, 14-02-2008     

Opini Tribun
     
Oleh: Aswar Hasan, Ketua KPID Sulsel

Pada tahun 1990 Bill Gates meramalkan, 10 tahun lagi (tahun 2000) surat kabar tercetak akan mati. Tetapi setelah sepuluh tahun berselang, pendiri Microsoft tersebut, kembali merevisi prediksinya, kemungkinan sekitar 50 tahun lagi ke depan, ramalannya akan mewujud.
     
Masyarakat akan terbiasa dengan electronic paper dan perlahan tapi pasti surat kabar tercetak akan ditinggalkan.
Sejauh mana realibilitas prediksi Bill Gates tersebut akan terwujud, masih perlu diuji kepastiannya. Paling tidak, prediksi Gates masih perlu dikomprontasikan dengan pandangan teori konvensional yang digulirkan oleh Wolfgang Riefel, selaku pemimpin redaksi Nuernberger Zeitung. Wolfgang Riefel menyatakan, media baru bukanlah pengganti atau subtitusi media lama melainkan merupakan tambahan atau kumulatif.
Ketika sejumlah surat kabar berlomba meluncurkan versi media online dimana versi tercetak di-posting secara online di situs media bersangkutan, sejumlah pengamat media meramalkan, bahwa tidak lama lagi, pelanggan terdidik menengah ke atas akan berhenti berlangganan surat kabar tercetak. Pasalnya, karena apa yang diberitakan di media cetak, sudah dapat diakses seketika, dengan menggunakan ponsel dimana pun dan kapan saja.
Sebagaimana diketahui, teknologi informasi telah membentuk kebiasaan baru masyarakat. Bagi siapa saja yang tidak segera menyesuaikan diri, ia akan tertinggal dan dilupakan. Hukum aksiomatik teknologi berkembang berdasarkan deret ukur, melampaui deret hitung. Jika tidak berani melakukan lompatan penyesuaian, kita akan tertinggal jauh. Demikianlah sifat perubahan dan penetrasi teknologi komunikasi terhadap pola dan gaya hidup dalam pergaulan masyarakat moderen.
Sebagai media yang baru eksis dengan usia relatif masih muda (empat tahun), keputusan meluncurkan media berita versi online melalui portal berita secara real time, dapat dipandang sebagai langkah berani yang penuh tantangan dan risiko. Tantangannya, media online membutuhkan penangan SDM yang faham karakteristik jurnalistik media cyber dengan kesigapan prasyarat antisipasif, khususnya implikasi atas sejumlah masalah cyber law yang sewaktu-waktu bisa bermasalah. Risikonya, Tribun Timur harus bisa mengendalikan diri, jika sewaktu-waktu (di masa datang) terjadi migrasi kebiasaan dari tradisi membaca media cetak menuju kebiasaan baru yang hanya doyan membaca media online, sebagaimana yang diprediksi Bill Gates.
Untuk menelisik bagaimana wujud ramalan-prediksi- antara penggiat media cyber oleh Bill Gates, dan aktifis media cetak yang dipelopori oleh Wolfgang Riefel, penulis tidak akan melihatnya secara vis a vis yang berangkat dari salah satu sudut pandang ekstrem masing-masing pihak. Sangat boleh jadi, beberapa sudut pandang dari mereka berdua, memiliki unsur kekuatan realibilitas (berpeluang menjadi nyata). Bahkan, dari keduanya sangat mungkin mengalami proses sinergisitas dalam wujud mutual simbiosis (berhubungan yang saling menguntungkan).
Setidaknya, sinergisitas kedua sisi pandang tersebut, mulai tampak pada inovasi media cetak Tribun Timur, khususnya ketika berinisiatif meluncurkan portal Tribun-Timur.Com sebagai media online. Menariknya, karena Tribun Timur tidak lagi sekadar memindahkan isi (content) edisi media cetak (print edition) ke media online di portal www. tribun-timur.com. Sejak September 2007, seiring dengan pertumbuhan pesat media cetak Tribun Timur (bertumbuh pesat sekitar 1500 persen) masyarakat luas sudah dapat mengakses berita Tribun Timur secar real time. Jika sebelumnya, berita real time (kejadian aktual) menjadi market leader segenap media siaran, maka saat ini, hal itu sudah terbagi ke media cetak versi online.
Model pemberitaan secara real time melalui media online yang isinya tidak lagi berupa copy paste dari edisi cetak, menjadi menarik secara menantang untuk dicermati ke depan, khususnya terhadap wujud -nasib- media massa cetak sebagaimana ramalan Bill Gates dan Wolfgang Riefel.
Jika saja Tribun Timur sekadar mem-posting isi beritanya di portal media online sebagaimana halnya yang ada di versi media cetak (copy paste), sangat boleh jadi, di masa depan, orang tidak lagi begitu membutuhkan media massa berita versi cetak (media print), akan terjadi migrasi pembaca ke media online, sebagaimana prediksi Bill Gates. Logikanya sederhana, yaitu jika berita yang sama sudah tersedia dan sewaktu-waktu sudah bisa diakses dimana saja, maka untuk apa lagi berlangganan media cetak?
Akan tetapi, jika ketersediaan informasi di media online tampil dengan sifat, bentuk dan dengan isi yang berbeda dari apa yang tersaji di versi media cetak, maka orang akan tetap membutuhkan versi media cetak. Terlebih lagi, jika isi berita dan informasi yang tersaji di versi media online hanya bersifat informatif dini secara aktual, dan masih perlu pendalaman atau investigatisi dari beberapa sudut pandang. Pendalaman atau investigasi kejadian sebagai peristiwa berita yang sudah tertuang di media online tersebut, tentunya masih memerlukan waktu kerja yang cukup. Pada sisi inilah, posisi dan peran media cetak tidak tergantikan. Bahkan, bisa memamfaatkan dan memenangkan situasi atas kebutuhan informasi yang konprehensif dan mendalam dari khalayak pembaca.
Dalam konteks dan perspektif inilah, maka ke depan, Tribun Timur semakin mendesak untuk melakukan sinergisitas isi dan format berita, antara versi media cetak dengan versi media online. Bukan untuk saling mematikan atau berkompetisi, tetapi seyogyanya bisa bersinergi, saling menghidupkan secara siombiosis. Contohnya, jika sebuah berita X yang tersaji di versi media online mendapat respon yang meluas dan positif dari pengakses, -mengingat di media online, respon pengakses dapat diketahui secepatnya, tidak sebagaimana di media cetak- maka untuk edisi media cetak, masalah X tersebut harus mendapat perhatian untuk menjadi pembahasan secara konprehensif dan mendalam.
Dengan demikian, maka paling tidak, khalayak pembaca akan tetap membutuhkan kedua bentuk media tersebut. Maka dalam pada itu, inovasi teknologi informasi di media Tribun Timur untuk saat ini dan kedepan, dalam perspektif prediksi Bill Gates, tidaklah sepenuhnya benar. Di sisi lain, pandangan Wolfgang Riefel, menjadi patut dan relevan untuk dipertimbangkan.
Teknologi Informasi
Dalam catatan HUT Ke- 4 Tribun Timur (9/2-2008) Dahlan, selaku pemimpin redaksi Tribun Timur, menulis, dalam masyarakat yang berubah, ada satu kekuatan yang begitu dahsyat yang mendorong, menciptakan, dan mengarahkan perubahan. Kekuatan dahsyat itu adalah teknologi informasi. Lebih lanjut, Dahlan mengutip pandangan Charles Darwin, bahwa untuk mampu bertahan di era teknologi dengan perubahan yang gencar dan dahsyat itu, dibutuhkan kemampuan penyesuaian diri. Bahwa pada akhirnya, bukan yang kuat yang bertahan hidup (survival), melainkan yang bisa menyesuaikan diri. Terbukti, banyak media besar dan kuat, yang pada akhirnya punah, karena tidak mampu menyesuaikan diri.
Teknologi informasi adalah lokomotif perubahan. Siapa yang tidak mampu mengantisipasinya akan tergilas oleh roda sejarah perubahan. Tidak sedikit persoalan yang ditimbulkan oleh inovasi IT (Teknologi Informasi) tersebut. Maka, perdebatan pun bermunculan. Salah satunya, adalah pandangan yang mempolemikkan, bahwa perkembangan IT seharusnya mempermudah persoalan hidup manusia, bukan justru memperumit kehidupan, dengan menciptakan ketergantungan dan keterjajahan oleh IT. Di tengah polemik tersebut, setidaknya dibutuhnya pemahaman tentang karakteristik dinamika IT itu sendiri, dalam kaitannya dengan eksistensi dan relevansi kebutuhan manusia. Tanpa pemahaman dasar seperti itu, akan sulit mensikapi arus dahsyat perubahan IT yang terus mengejolak di tengah kehidupan kita.
Dalam kajian media, ada tiga pendekatan upaya memahami perkembangan teknologi komunikasi (Wilhelm, 2000). Pertama, pendekatan Dystopian. Kelompok ini, sangat hati-hati dan bersikap kritis tehadap penerapan teknologi komunikasi, sebab dampak yang ditimbulkan, bisa mengacaukan kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik suatu bangsa. Di antara tokoh pendukung Dystopian, adalah; Edmun Husserl, Heidegger, dan Hanna Arendt.
Pandangan kedua, berasal dari kaum Neo Futuris. Kelompok ini, didukung oleh John Naisbitt, Alvin Toffler, dan nicholas Negroponte. Mereka berpandangan, bahwa kehadiran IT harus diterima sebagai bentuk kemajuan dan kreativitas manusia. Mereka menolak kaum Dystopian yang lebih banyak bernostalgia dan menganggap kemajuan teknologi yang tidak terkontrol, bisa mengancam eksistensi manusia.
Salah seorang tokoh Neo Futuris, Alvin Toffler, mengatakan, bahwa daripada berjuang sia-sia untuk membatasi percepatan ritme kehidupan kontemporer (kehidupan moderen berdasarkan teknologi), maka yang mendesak, adalah kita seharusnya berupaya terus menerus memperbaiki dan berpikir ulang mengenai tujuan sosial kita, dari sudut perubahan yang revolusioner. Dampak dari ketidaksiapan menghadapi perubahan dan kemajuan teknologi tersebut, adalah terjadinya goncangan masa depan (future Shock). Olehnya itu, kata Toffler, dari pada memunculkan pemberontakan melawan masa depan, maka harus sejak sekarang, mulai mengantisipasinya dengan mendesain masa depan itu sendiri.
Pandangan ketiga, menamakan diri sebagai Teknorealis. Faham ini, bertujuan untuk menjadi juru damai antara pandangan Dystopian dan Neo Futuris dalam hal penerapan teknologi komunikasi dan dampaknya dalam kehidupan masyarakat. Teknorealis berpendapat, bahwa teknologi tidaklah netral, dimana misalnya, temuan dan dampak internet adalah revolusioner, membawa perubahan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, dan hal itu bukan utopia, tetapi sebuah kenyataan yang harus dihadapi. Mereka menyadari, bahwa saat ini telah terjadi ironi kemajuan IT yang banyak berakhir dengan memperalat manusia dalam kehidupannya. Padahal awalnya, IT dimaksudkan sebagai alat mengontrol ruang dan waktu bagi kepentingan manusia. Bukan justeru sebaliknya. Kelompok Teknorealis banyak dipelopori oleh kaum profesional, termasuk sejumlah jurnalis dan akademisi yang bergerak dalam kajian teknologi media.
Pada akhirnya, kita pun harus bertanya. Model perubahan dengan cara pandang yang mana akan dilakukan oleh media Tribun Timur? Kita tunggu hasilnya. (***)
 

Makassar, Sulsel
www.tribun-timur.com


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

Sutiyoso: Infrastruktur Transportasi Pangkal Penataan Kota Dunia

http://www.tribun-timur.com/view.php?id=63944&jenis=Makassar

Kamis, 14-02-2008 | 11:55:51
Sutiyoso: Infrastruktur Transportasi Pangkal Penataan Kota Dunia
Laporan: Furqon Majid. furqon_majid@yahoo.com
Makassar, Tribun - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, mengatakan, pangkal dari penataan sebuah kota dunia adalah infrastruktur dan jaringan transportasi. Tanpa penataan ini, Makassar bakal menjadi kota yang ruwet 17 tahun mendatang.
"Saya ingatkan, Makassar jangan bangga dengan petepete. Itu bukan jaringan transportasi karena tidak integrated. Kota dengan transportasi yang kacau akan menjadi high cost city," kata Sutiyoso dalam seminar Makassar 2025 Kembali ke Kota Dunia di Hotel Clarion.

Sutiyoso bercerita, saat ini penduduk Jakarta sebanyak sembilan juta saat malam. Tapi saat siang membengkak menjadi 12 juta orang. Kepadatan rata-rata 14 ribu per kilometer persegi. Di kawasan kota lama seperti Pasar Senen, Kota, dan Kemayoran, kepadatan mencapai 22 ribu orang per kilometer persegi.

Kendaraan bermotor menjadi masalah utama di Jakarta. Tahun 2006, kendaraan bertambah tidak terkendali. Satu hari mobil bertambah 269 unit. Sedangkan motor bertambah 1023 unit dalam sehari. Mobil yang masuk dari daerah sekitarnya 650 unit sehari. Kendaraan tumbuh 11 persen per tahun, tapi jalan hanya tumbuh satu persen per tahun.

"Bayangkan betapa ruwetnya Jakarta. Saya tanya kepada ahli transportasi saya, apa yang terjadi pada tahun 2014? Lalu lintas akan stagnan. Artinya, begitu keluar garasi mobil akan langsung terjebak kemacetan. Saya terbelalak. Maka saya bilang, kita harus tata transportasi mulai sekarang," kata Sutiyoso.

Maka dirancanglah konsep transportasi massal Jakarta. Wilayah selatan-utara (dari kota menuju arah Bogor) akan dihubungkan dengan subway (kereta bawah tanah), wilayah barat-timur (dari arah Tangerak dan Bekasi) akan dihubungkan monorail. Sedangkan di dalam kota digunakan busway dicampur dengan transportasi air.

"Makassar harus mulai memikirkan penataan transportasi yang integrated. Jika tidak, ekonomi akan lamban tumbuh karena Makassar akan menjadi kota dengan biaya hidup yang mahal," saran Sutiyoso. (*)

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com

Hotline SMS untuk berlangganan Tribun
Timur edisi cetak: 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555)